www.birotiket.com/?id=tiket2012 - Nikmati Layanan Tiket Pesawat Murah, Booking dan Cetak Sendiri Tiketnya

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Bergabung? silahkan klik disini

Senin, 09 September 2013

Apa Saja Penyebab Ereksi Loyo?



Ketidakmampuan ereksi atau biasa disebut disfungsi ereksi (DE) bukan cuma disebabkan karena tidak adanya libido saja. Gangguan penyakit sampai masalah psikologis dengan pasangan bisa membuat penis menjadi tak bertenaga.

Seseorang disebut menderita DE jika ia tidak mampu melakukan ereksi selama lebih kurang tiga bulan. "Ketidakmampuan ini berjalan terus-menerus, bukan selang-seling terkadang bisa terkadang tidak. Kondisi itu juga tetap berlangsung meski dengan partner yang berbeda," papar Dr Ponco Birowo, dokter spesialis urologi dari RS Asri Jakarta.

Ponco menjelaskan, secara umum ada dua penyebab utama disfungsi ereksi, yakni faktor psikogenik dan organik.

Faktor psikogenik adalah semua hal yang berkaitan kondisi kejiwaan. "Penyebabnya bisa karena komunikasi yang kurang baik dengan pasangan. Penyebab lain adalah merasa tidak berdaya karena tidak mampu membuat pasangan orgasme," katanya.

Rasa rendah diri karena tidak berhasil menuntun pasangan mencapai orgasme ternyata bisa membuat seorang pria merasa stres, depresi, merasa bersalah, sampai takut akan keintiman.

Sementara itu, yang dimaksud dengan penyebab organik adalah gangguan penyakit. "Hampir dua pertiga disfungsi ereksi disebabkan karena faktor ini," katanya.

Selain diabetes yang tidak terkontrol, penyakit yang bisa menyebabkan impotensi adalah kolesterol tinggi, hipertensi, atau memiliki riwayat kecanduan. Penyakit-penyakit tersebut dapat merusak saraf dan pembuluh darah sehingga aliran darah ke organ penis yang diperlukan untuk terjadinya ereksi menjadi terhambat.

Ponco menambahkan, ada beberapa gejala yang menyertai penyebab organik, yakni hilangnya minat pada aktivitas sosial, ukuran testis yang mengecil, serta penurunan pada penanda seksual sekunder, misalnya melemahnya kekuatan otot.

Mengenali penyebab-penyebab disfungsi ereksi bisa membantu memilih terapi pengobatan yang paling tepat.

Pengobatan DE sendiri terdiri dari tiga lini, yang pertama adalah mengobati penyebabnya yang diikuti dengan melakukan perubahan gaya hidup dan mengonsumsi obat. Misalnya dengan obat golongan PDE-5 inhibitor.

Jika pengobatan lini pertama tidak berhasil, pasien bisa melakukan terapi lini kedua berupa injeksi sildenafil ke badan penis serta injeksi sildenafil ke saluran kencing. "Tetapi, pengobatan ini mulai dibatasi karena minimnya penyerapan obat di uretra," kata Ponco.

Sementara itu, pengobatan di lini terakhir adalah operasi atau terapi hormon yang diikuti dengan terapi seks.

"Kunci keberhasilan pengobatan adalah menjaga pola hidup sehat, dengan asupan bernutrisi seimbang dan olahraga. Kecuali karena kondisi genetik, disfungsi ereksi bisa diperbaiki dengan pola hidup sehat. Pola yang sama juga harus dijalani usai menjalani pengobatan," ujarnya.

Sumber: kompas.com

Kecanduan Pornografi, Pria Cenderung Menyepelekan Wanita


Ilustrasi nonton televisi.

Diskriminasi jender merupakan hal yang berlawanan dengan emansipasi. Salah satu kebiasaan yang meningkatkan kecenderungan diskriminasi jender adalah menonton tayangan porno.

Tayangan porno, baik gambar maupun video, sejak lama menjadi kontroversi dalam perabadan modern. Tayangan tersebut dikatakan membuka pengalaman mental yang tidak pernah dibayangkan beberapa dekade belakangan.

Para peneliti asal University of Copenhagen dan University of California, Los Angeles, melakukan analisis pada 200 pria dan wanita Denmark yang berusia 18-30 tahun. Mereka kemudian menguji kebiasaan menonton tayangan porno dan kepribadian peserta.

Mereka menemukan, peserta yang memiliki kebiasaan menonton tayangan porno cenderung untuk lebih antagonis dan gemar membuat permusuhan dengan sesamanya. Peserta tersebut juga cenderung tidak bersahabat dan egois.

Selanjutnya, para peneliti mencoba untuk lebih detail dan fokus terhadap sikap yang berhubungan dengan diskriminasi jender. Mereka menguji peserta untuk menentukan apakah kebiasaan menonton tayangan porno benar-benar memengaruhi sikap diskriminatif terhadap jender.

Hasilnya, peserta dengan hobi menonton tayangan porno cenderung untuk memiliki sikap diskriminatif terhadap jender, termasuk tidak ramah, berprasangka buruk, dan menyepelekan lawan jenisnya, dibanding dengan mereka yang tidak.

Studi yang dilaporkan dalam Journal of Communication tersebut menemukan, wanita cenderung untuk menahan sikapnya dibandingkan pria. Karena itu, hasil tersebut tidak berlaku pada wanita.

Peneliti studi Gert Hald mengatakan, temuan ini mungkin dapat membantu para peneliti untuk lebih mengerti dampak pornografi terhadap perubahan cara bersikap. "Meski hasil yang didapat dari studi ini mungkin tidak sama pada setiap orang," ujarnya.

Para peneliti mengatakan, hasil studi ini hanya terbatas pada pria dan wanita heteroseksual, dan bahwa hubungan antara kebiasaan menonton tayangan porno dan diskriminasi jender bukan merupakan hubungan sebab akibat.

Followers