www.birotiket.com/?id=tiket2012 - Nikmati Layanan Tiket Pesawat Murah, Booking dan Cetak Sendiri Tiketnya

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Bergabung? silahkan klik disini

Minggu, 29 Juli 2012

Akhirnya, AIDS Bisa Disembuhkan



md0.libe.com

Timothy Ray Brown, satu-satunya orang yang sembuh dari AIDS.
Meski pada awalnya dia tidak ingin orang lain mengetahui siapa dirinya, selain sebagai “pasien Berlin” yang berhasil sembuh dari AIDS, kini Timothy Ray Brown berani muncul demi suatu tujuan mulia: membangun sebuah yayasan untuk menarik donasi bagi upaya penelitian penyembuhan AIDS.
Berdiri di hadapan para jurnalis, Brown membagikan kisah keberhasilannya berjuang dari dua penyakit mematikan: AIDS dan leukemia. Kisah keberhasilan yang lebih sering disebut sebagai keajaiban oleh sebagian besar orang ini berawal dari keberadaannya di Berlin tahun 2007.
Saat itu Brown sedang menjalani perawatan terkait infeksi HIV yang dialaminya dengan menggunakan obat anti-HIV yang umum dipakai. Ternyata di saat bersamaan leukemia yang diidapnya berkembang sehingga dia memutuskan untuk melakukan transplantasi sumsum tulang.
Dokter yang menanganinya memutuskan untuk mencari pendonor yang memiliki sebuah mutasi genetis. Kelainan genetis yang dimaksud adalah ketiadaan CCR5 yang biasanya dijadikan “markas” oleh HIV untuk masuk ke dalam sel tubuh CD4. Harapan dari dokter tersebut adalah membuat sel-sel yang kebal terhadap infeksi HIV.
Setelah donor ditemukan, pria yang kini berusia 45 tahun tersebut harus menjalani kemoterapi berat untuk menghentikan kinerja sel imun dalam tubuhnya, yang dapat menolak kehadiran sumsum tulang yang sudah mengalami mutasi tersebut. Ternyata, meski baru masuk masa pemulihan, Brown tidak lagi perlu mengonsumsi obat ant-HIV karena sudah tidak lagi ditemukan keberadaan virus di tubuhnya.
Lima tahun kemudian, Brown dinyatakan tidak lagi terinfeksi HIV. Sebuah laporan yang langsung menimbulkan respon besar. Termasuk tanggapan negatif, seperti laporan terbaru yang menyebutkan ketiadaan virus di tubuh Brown tidak benar. Untuk itu, di hadapan para jurnalis, Brown menyatakan meski ketika upaya yang sama dilakukan pada sembilan orang lainnya tidak berhasil, bukan berarti hal yang sama terjadi pada dirinya. “Saya telah sembuh dari AIDS dan akan selalu sembuh,” ujarnya.
“Saya memiliki leukemia dan itu merupakan jalan untuk saya untuk bertahan hidup, namun saya tidak pernah mengharapkannnya,” pria asal Amerika Serikat tersebut melanjutkan paparannya. Apalagi ketika dia pernah benar-benar merasakan kondisi seperti akan mati. Selanjutnya Brown menyatakan, “Saya tidak memilih untuk menjadi ‘pasien Berlin’. Saya hanya manusia biasa yang ingin mengambil peran dalam upaya penyembuhan AIDS.”
Terakhir, dia berucap, “Kini saya memutuskan untuk mendedikasikan hidup saya, tubuh saya, dan kisah saya untuk mencari cara penyembuhan bagi siapa pun yang menderita AIDS dan bagi siapa pun yang mungkin terinfeksi sebelum obat ditemukan.” (WebMD)

Puasa yang Panjang



Ilustrasi: Anton

Kemiskinan dan penderitaan dapat dilihat sebagai sebuah "masa puasa' dan "mati raga" yang panjang. Bila disikapi dengan positif, masa itu dapat menjadi mproses pembentukan karakter yang krusial untuk meraih sukses. 
Perihal manfaat puasa bagi lahir dan batin, semua sudah mahfum. Salah satunya tentu mengasah ketangguhan mental dalam menahan derita. Masalahnya, derajat derita setiap orang tak sama.
Kita yang sehari-hari cukup pangan, sandang, dan papan, menahan lapar sepanjang hari barangkali sudah merupakan perjuangan. Akan tetetapi baiklah kita ingat bahwa di Jakarta ada 363.200 orang berada di bawah garis kemiskinan (BPS, Maret 2012). Jumlah itu hampir 30.000 lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk kecamatan terpadat di Jakarta Utara, Kec. Tanjung Priok. Dengan hanya Rp13.235/hari/kapita di kantong untuk makan sehari, jatah makan tiga kali sehari tentu jadi upaya yang butuh akrobat.  
Bagaimana dengan potret nasionalnya? Data BPS Maret 2010 mengatakan, jumlah penduduk miskin di Indonesia 31 juta orang (lebih dari tiga kali lipat penduduk DKI), sekitar 64%-nya ada di pedesaan. Hanya saja angka-angka itu tentu tidak bicara banyak, kalau tidak diilustrasikan dengan kondisi riil keseharian. Misalnya pengalaman seorang kawan saya, sebut saja Firza.
Mati raga setiap hari
Firza berasal dari sebuah kota kecil. Karena prestasi akademiknya bagus, ia diterima di sebuah universitas negeri yang baik, lewat jalur beasiswa. Kebetulan letaknya jauh dari kota tempat tinggalnya. Berhubung orangtuanya kurang mampu, mereka hanya bisa membekali dia sangat sedikit. Maka ia pun sering harus tidak makan selama menjadi mahasiswa. Baginya, masa belajar itu menjadi masa prihatin, laku puasa, dan pantang yang bertahun-tahun. Baru setelah lulus dan bekerja, ia mampu makan tiga kali sehari seperti teman-temannya.
Harian Kompas 24 Juli 2012 memuat berita tentang para penerima beasiswa Sampoerna Foundation. Banyak dari mereka berasal dari kalangan prasejahtera. Ketika akhirnya berkesempatan belajar di Amerika Serikat, tidur di asrama, dan hidup dengan standar fasilitas universitas, ada yang sampai terkaget-kaget. Ternyata penyebabnya sepele saja. Alas tidur yang empuk, selimut yang nyaman bikin sebagian tersiksa. Bagi para pemuda ini, kasur dan selimut adalah barang mewah yang baru mereka kenal di sana.
Padahal bukankah bagi banyak orang, tidur di alas keras sudah bisa menjadi satu cara untuk mati raga? Sesuatu yang bagi beberapa  mahasiswa/i penerima beasiswa tersebut, “mati raga” itu merupakan keniscayaan keseharian mereka. Toh dengan segala keterbatasan fisik dan fasilitas, mereka telah membukukan prestasi dengan meraih peluang bea siswa.
Anda barangkali telah membaca buku Ganti Hati, karya Dahlan Iskan, Menteri BUMN. Di situ ia menceritakan, masa kecilnya ketika ia harus berangkat ke sekolah dan pulang dengan berjalan kaki tanpa alas kaki selama satu jam, masing-masing. Ia baru bisa memiliki sepatu setelah SMA, itu pun sepatu kets bekas yang bagian jempolnya sudah berlubang. Sepatu itu hanya dipakai pada hari Senin ketika ia menjadi komandan upacara. Apakah situasi serba keterbatasan itu yang telah menggemblengnya menjadi manusia berkarakter gigih seperti sekarang?
Apakah untuk menjadi pribadi unggul, yang gigih, yang pantang menyerah, kita harus melalui kondisi miskin merana? Sebaliknya, apakah semua orang yang pernah mengalami kemiskinan pasti akan menangguk kesuksesan?
Latihan
Tidak semua orang mendapatkan nasib demikian buruk (atau “baik”, tergantung dari mana kita melihatnya) untuk menjadi demikian miskinnya. Tetapi nyatalah kondisi keterbatasan dan keterjepitan, dapat menjadi berkah kalau kita dapat mengambil manfaatnya; dan manfaat itu ada pada proses asah dan uji mental yang luar biasa. 
Kalau Anda kini sedang dirundung masalah, sedang berada di lembah kehidupan, bahkan barangkali Anda merasa sedang terperangkap di “batas” bawah kehidupan, kini saatnya melihat kondisi ini dari perspektif lain. Bukan dari sisi kegagalan dan pahitnya, namun dari sisi “mati raga” dan latihan rohani itu.
Tidak semua orang yang didera kemiskinan dan duka nestapa, berhasil meraih kesuksesan, tetapi tak ada yang dapat menyangkal bahwa  latihan yang mengasah kedisiplinan, kegigihan dalam menghadapi ketidaknyamanan, dan fokus dalam mencapai tujuan, adalah modal besar dalam hidup. Tergantung seberapa positif ia menyikapi pengalaman hidup itu, dan seberapa dalam ia meyakini bahwa hidup itu adalah sebuah proses.
Seperti pesta yang selalu ada akhirnya, hidup pun dapat menjadi sebuah latihan mati raga yang panjang. Namun yakinlah, dengan tidak meninggalkan doa dan ibadah, Anda sedang dalam proses untuk mengakhirnya.

Followers